FOTO : Raja Sanggau, Pangeran Ratu Surya Negara, Drs H Gusti Arman M Si bersama keluarga mengenakan tenun kerajinan Kalengkang [ ist ]
Pewarta/editor : SerY TayaN
SANGGAU – Sebuah dedikasi yang konsisten akhirnya berbuah manis di panggung nasional. Kerajinan tradisional Kalengkang, kain adat khas Sanggau yang sarat nilai sejarah, resmi ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Nasional.
Keberhasilan ini bukan sekadar pencapaian administratif, melainkan sebuah momentum “penyelamatan” identitas daerah.
Tak heran jika gelombang apresiasi bernada haru dan bangga langsung mengalir deras, terutama dari jantung adat Sanggau. Adalah, Istana Surya Negara Kesultanan Sanggau dan Dewan Pimpinan Cabang Majelis Adat Budaya Melayu (DPC MABM) Kecamatan Kapuas. Dan dukungan dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Kabupaten Sanggau.
Atas dukungan ini, menunjuk satu nama di balik layar yang menjadi motor penggerak runtuhnya dinding kepunahan Kalengkang yakni Sunaryo Adema, yang akrab dengan sapaan Pak Sun.
Saat ditemui oleh tim radarkalbar.com, Raja Sanggau Pangeran Ratu Surya Negara, Drs H Gusti Arman M Si tidak dapat menyembunyikan rasa hormatnya atas perjuangan gigih Sunaryo. Bagi pihak Kesultanan Sangagu, apa yang dilakukan Sunaryo adalah bentuk kesetiaan tertinggi pada leluhur.
“Kami atas nama Istana Surya Negara, zuriat, serta kaum kerabat Kesultanan Sanggau, menyampaikan apresiasi dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada Bapak Sunaryo Adema,” ungkap Pangeran Ratu Surya Negara dengan nada takzim.
Lebih dari sekadar ucapan selamat, Pangeran Ratu melihat tindakan Sunaryo merekomendasikan dan mengawal Kalengkang ke tingkat nasional sebagai cetak biru (blueprint, red) penting bagi masa depan generasi muda Sanggau.
“Upaya beliau adalah kontribusi berharga agar nilai budaya kita tidak lekang oleh waktu. Semoga semangat dan kepedulian Bapak Sunaryo menjadi pemantik api inspirasi bagi banyak pihak untuk tidak malu menjaga kekayaan daerah,” tegas pria dengan sapaan akrab Pak Teh.
Tak cukup sampai di situ, apresiasi yang berbeda namun senada juga ditiupkan oleh DPC MABM Kecamatan Kapuas. Lantas, melalui Sekretarisnya, Gusti Baiturrahman, MABM melihat sosok Sunaryo bukan hanya sebagai pelestari, melainkan sebagai “pembuka jalan” (pioneer, red) bagi modernisasi produk budaya tanpa kehilangan akarnya.
“Kami mengucapkan terima kasih yang mendalam atas pengabdian dan kerja keras Bapak Sunaryo Adema. Segala ikhtiar yang telah beliau lakukan hari ini adalah motor penggerak bagi kemajuan budaya di Kabupaten Sanggau secara keseluruhan,” ucapnya tulus.
Kini, setelah Kalengkang resmi menyandang status sebagai Warisan Budaya Nasional, tantangan berikutnya berada di pundak seluruh elemen masyarakat dan pemerintah daerah.
Tentunya, pengakuan ini menjadi lonceng pengingat, bahwasanya perlindungan, pengembangan, dan pemanfaatan ekonomi kreatif berbasis kain Kalengkang harus segera diperkuat agar karya adiluhung ini tetap hidup di kehidupan sehari-hari, bukan sekadar menjadi pajangan di etalase museum. [ red ]
Publisher : Admin radarkalbar.com
